Sabtu, 15 Mei 2010

Infertilitas Pada Perempuan

Sudah melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan alat kontrsepsi, tapi belum hamil juga? Jika kondisi ini Anda alami lebih dari setahun maka sebaiknya Anda memeriksakan diri ke dokter. Bisa jadi Anda mengidap infertilitas.

Apakah infertilitas itu? Apa penyebab dan bagaimana solusinya?

Infertilitas tidak sama dengan kemandulan

Di bidang reproduksi, infertilitas diartikan sebagai kekurangmampuan pasangan untuk menghasilkan keturunan, jadi bukanlah ketidakmampuan mutlak untuk memiliki keturunan.

Jadi, pasangan suami istri dikategorikan mengalami infertilitas bila tidak juga mengalami pembuahan, sekalipun sudah melakukan hubungan seksual secara teratur - tanpa kontrasepsi - dalam periode setahun. Sedangkan kemandulan atau sterilitas adalah perempuan yang rahimnya telah diangkat atau laki-laki yang telah dikebiri (dikastrasi).

Penyebab Infertilitas
Berdasarkan catatat WHO, diketahui penyebab infertilitas pada perempuan di antaranya, adalah: faktor Tuba fallopii (saluran telur) 36%, gangguan ovulasi 33%, endometriosis 6%, dan hal lain yang tidak diketahui sekitar 40%.

Ini artinya sebagian besar masalah infertilitas pada perempuan disebabkan oleh gangguan pada organ reproduksi atau karena gangguan proses ovulasi.

1. Gangguan pada organ reproduksi

Ada beberapa gangguan yang biasanya terdapat pada vagina, di antaranya:

- Tingkat keasaman tinggi
Bila terjadi infeksi pada vagina, biasanya kadar keasaman dalam vagina akan meningkat. Kondisi ini akan menyebabkan sperma mati sebelum sempat membuahi sel telur. Kadar keasaman vagina juga menyebabkan vagina mengerut sehingga perjalanan sperma di dalam vagina terhambat.

- Gangguan pada leher rahim, uterus (rahim) dan Tuba fallopi (saluran telur)
Dalam keadaan normal, pada leher rahim terdapat lendir yang dapat memperlancar perjalanan sperma. Jika produksi lendir terganggu, maka perjalanan sperma akan terhambat. Sedangkan jika dalam rahim, yang berperan adalah gerakan di dalam rahim yang mendorong sperma bertemu dengan sel telur matang. Jika gerakan rahim terganggu, (akibat kekurangan hormon prostaglandin) maka gerakan sperma melambat. Terakhir adalah gangguan pada saluran telur. Di dalam saluran inilah sel telur bertemu dengan sel sperma. Jika terjadi penyumbatan di dalam saluran telur, maka sperma tidak bisa membuahi sel telur. Sumbatan tersebut biasanya disebabkan oleh penyakit salpingitis, radang pada panggul (Pelvic Inflammatory Disease) atau penyakt infeksi yang disebabkan oleh jamur klamidia.

2. Gangguan Ovulasi
Ovulasi atau proses pengeluaran sel telur dari ovarium terganggu jika terjadi gangguan hormonal. Salah satunya adalah polikistik. Gangguan ini diketahui sebagai salah satu penyebab utama kegagalan proses ovulasi yang normal. Ovarium polikistik disebabkan oleh kadar hormon androgen yang tinggi dalam darah. Kadar androgen yang berlebihan ini mengganggu hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) dalam darah. Gangguan kadar hormon FSH ini akan mengkibatkan folikel sel telur tidak bisa berkembang dengan baik, sehingga pada gilirannya ovulasi juga akan terganggu.

3. Kegagalan implantasi
Setelah sel telur dibuahi oleh sperma dan seterusnya berkembang menjadi embrio, selanjutnya terjadi proses nidasi (penempelan) pada endometrium. Perempuan yang memiliki kadar hormon progesteron rendah, cenderung mengalami gangguan pembuahan. Diduga hal ini disebabkan oleh antara lain karena struktur jaringan endometrium tidak dapat menghasilkan hormon progesteron yang memadai.

4. Endometriosis
Endometriosis adalah istilah untuk menyebutkan kelainan jaringan endometrium (rahim) yang tumbuh di luar rahim. Jaringan abnormal tersebut biasanya terdapat pada ligamen yang menahan uterus, ovarium, Tuba fallopii, rongga panggul, usus, dan berbagai tempat lain. Sebagaimana jaringan endometrium normal, jaringan ini mengalami siklus yang menjadi respon terhadap perubahan hormonal sesuai siklus menstruasi perempaun.

Solusi
Karena disebabkan oleh berbagai faktor, maka sangat dianjurkan agar pasangan suami dan istri memeriksakan diri lebih dini, agar diketahui penyebabnya. Tidak semua kasus dapat dibantu dengan pengobatan, beberapa di antaranya (kelainan anatomi dan bentuk) membutuhkan penanganan medis via operasi.

Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan kandungan melalui serangkaian tes laboratorium seperti tes darah, kencing serta kadar hormon. Jika dibutuhkan, dokter biasanya menyarankan agar dilakukan pemeriksaan radiologis (USG, HSG), bahkan tindakan operasi (laparaskopi) untuk mencari/mengobati penyebabnya.(conectique.com)

Sabtu, 08 Mei 2010

Usia Ideal Memiliki Anak

Banyak perempuan yang bertanya kapan sebenarnya usia yang tepat atau ideal untuk memiliki anak. Karena perempuan akan dikejar oleh usia produktif dan usia rawan untuk hamil.

Umur merupakan faktor penting dalam menentukan waktu yang ideal untuk hamil. Tubuh perempuan akan mengalami perubahan sepanjang hidupnya, karena itu perempuan ingin memiliki anak pada usia yang ideal. Selain umur kondisi fisik juga menjadi faktor penentu, seorang wanita muda mungkin lebih berpengalaman dan mampu dalam membesarkan anak.

Secara fisik usia yang ideal untuk hamil adalah antara umur 18 sampai 20 tahun. Karena pada usia tersebut seorang perempuan kemungkinan sedikit mengalami komplikasi dan memiliki tubuh yang sehat dan subur, seperti dikutip dari eHow, Kamis (1/10/2009).


Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa kesuburan seorang perempuan mulai menurun setelah berusia 20 tahun dan akan menurun dengan cepat setelah berusia 35 tahun. Karenanya pada usia tersebut dianggap ideal untuk memiliki anak.


Tapi ada faktor lain yang harus dipertimbangkan oleh perempuan. Anak merupakan investasi masa depan dan seharusnya perempuan yang ingin memiliki anak harus sudah siap secara finansial dan emosi. Harus dipertimbangkan pula apakah dapat memberikan anak kasih sayang sepenuhnya, kesehatan dan pendidikan yang baik serta apakah nantinya anak akan mempengaruhi karir serta ambisi sang ibu.

Sementara usia remaja lebih berisiko mengalami komplikasi pada kehamilannya, serta angka kematian bayi lebih tinggi terjadi pada remaja yang hamil. Remaja yang sudah menjadi ibu biasanya belum siap secara finansial dan emosi untuk memiliki anak.

Untuk perempuan yang berusia diatas 35 tahun secara fisik bukan usia yang ideal untuk memiliki anak. Karena pada usia tersebut produksi hormon progesteron sedikit, padahal hormon tersebut penting untuk membantu penanaman sel telur dalam lapisan rahim. Perempuan yang berusia 35 tahun ke atas kemungkinannya kecil untuk bisa hamil secara alami dan lebih berisiko mengalami keguguran.

Tentu saja hal terpenting yang harus dipikirkan dalam menentukan waktu untuk memiliki anak adalah kesiapan secara fisik, emosi dan keuangan. Karena mungkin saja hal tersebut terjadi di luar dari apa yang dianggap ideal.

(Vera Farah Bararah - detikHealth, Foto: open.salon.com)

Perempuan Kehilangan 90 Persen Sel Telur Saat Usia 30 Tahun

Kenapa perempuan usia 30 tahun ke atas sangat sulit hamil? Peneliti telah menemukan jawabannya. Perempuan kehilangan 90 persen sel telurnya ketika memasuki usia 30 tahun.

Perempuan sudah memakai 90 persen sel telurnya saat usianya 30 tahun. Meski masih bisa memproduksi sel telur saat usia 30 hingga 40-an tahun, namun cadangan sel telur terus menyusut cepat.

Peneliti mengatakan tubuh memilih telur yang terbaik dari cadangannya. Sementara kualitas sel telur perempuan akan semakin memburuk saat usia bertambah dan meningkatkan kesulitan dalam mendapatkan bayi yang sehat.

Penelitian yang dilakukan University of St Andrews dan Edinburgh University adalah yang pertama mengenai cadangan penurunan jumlah ovarium yang begitu cepat dan kesulitan pembuahan benih menjelang menopause.

Hasil penelitian menunjukkan rata-rata perempuan memiliki 300 ribu sel telur tetapi jumlah ini akan menurun dengan cepat dibanding pemikiran semula. Pada usia 30 tahun perempuan hanya memiliki cadangan sel telur 12 persen dan 3 persen pada usia 40 tahun.


Dr Hamish Wallace dalam tulisannya menuturkan penelitian yang telah dilakukan ini bisa menunjukkan prospek tingkat kesuburan para perempuan.


"Penelitian kami menunjukkan bahwa 95 persen perempuan pada usia 30 tahun hanya punya 12 persen cadangan ovarium maksimal dan pada usia 40 tahun hanya tiga persen yang tersisa," katanya seperti dilansir dari Telegraph, Kamis (28/1/2010).

Peneliti mengatakan banyak wanita yang berpikiran salah dengan menganggap mereka masih bisa memproduksi sel telur dan menjaga tingkat kesuburannya. Namun penelitian ini menunjukkan adanya penurunan sel telur yang signifikan dengan cepat.

Penelitian dilakukan dengan memakai data 325 perempuan di Inggris, AS dan Eropa dari segala usia untuk menilai potensi cadangan sel telurnya. Peneliti kemudian menggunakan data tersebut untuk membuat grafik penurunan rata-rata potensi cadangan ovarium sepanjang hidup perempuan.

Dr Wallace, yang berpraktik di Rumah Sakit Royal Edinburgh juga mengatakan penelitian ini bisa membantu memprediksi masa menopause dini perempuan dan pembekuan sel telur terhadap penderita kanker ovarium.

Penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal Public Library of Science One ini juga menunjukkan adanya perbedaan besar jumlah sel telur perempuan. Beberapa wanita ada yang memiliki sel telur hingga 2 juta sel telur tapi ada juga yang memiliki sedikitnya 35.000 sel telur. Tapi rata-rata perempuan memiliki 300 ribu sel telur.

Penelitian ini menjadi peringatan bagi perempuan agar tidak terlambat untuk merencanakan kehamilan. Karena kesuburan perempuan setelah usia 30-an tahun akan turun drastis. (sumber : Irna Gustia - detikHealth, Ilustrasi Foto: bbc)

Waspadai Adanya Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) bagi Wanita Berkumis.


Wanita dengan gejala sedikit kumis di atas bibir ditambah dengan siklus haid yang tidak teratur sebaiknya berhati-hati karena itu pertanda kemungkinan susah punya anak.

"Wanita yang punya kumis, bulu lebat dan siklus menstruasi tidak teratur adalah ciri-ciri wanita dengan penyakit Polycystic Ovary Syndrome. Penyakit ini biasanya menyebabkan reproduksi wanita terganggu dan akhirnya susah punya anak"

Polycystic ovary syndrome (PCOS) adalah penyakit pada wanita yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan hormon. Wanita yang punya penyakit ini biasanya akan mengalami siklus haid yang tidak teratur, pertumbuhan bulu-bulu halus dan susah punya anak.

Jika tidak segera ditangani, PCOS bisa menyebabkan masalah kesehatan seperti diabetes dan jantung. PCOS terjadi pada 1 dari 15 wanita dan gejalanya biasanya muncul sejak remaja.

Biasanya wanita yang menderita PCOS memiliki bulu lebat dan sedikit rambut di daerah mulut yang terlihat seperti kumis. Hal ini dikarenakan ovarium memproduksi hormon pria (androgen) sehingga wanita dengan penyakit ini sering disebut hiperandrogen.


Kelebihan hormon pria tersebut menyebabkan siklus ovulasi terhenti, sering jerawatan dan pertumbuhan rambut yang tak normal pada bagian wajah dan tubuh.


Wanita dengan PCOS juga umumnya berbobot badan besar atau gemuk, tapi orang kurus juga bisa mengalaminya. Orang gemuk cenderung punya maslah insulin atau resistensi insulin sehingga meningkatkan kemungkinan penyakit diabetes.

Seperti dikutip dari Webmed, beberapa gejala PCOS antara lain:

1. Jerawatan.
2. Peningkatan berat badan dan kesusahan menurunkan berat badan.
3. Ada rambut atau bulu halus yang tumbuh di daerah wajah, dada, perut atau punggung.
4. Ada rambut tipis di daerah kening kepala.
5. Punya siklus haid yang tidak teratur, pendarahan saat menstruasi dan biasanya hanya 9 kali dalam setahun atau kurang.
6. Masalah kesuburan, biasanya wanita dengan PCOS susah hamil dan punya anak (infertil).
7. Sering merasa depresi.


Ovarium wanita dengan PCOS umumnya ditumbuhi kista-kista kecil dalam jumlah banyak, itulah mengapa penyakit ini disebut dengan polycystic ovary syndrome yang artinya banyak kista dalam ovarium.

Penyebab PCOS adalah ketidakseimbangan hormon yang biasanya menurun dalam keluarga. Jadi jika ibu, nenek, atau saudara lainnya punya riwayat penyakit ini kemungkinan Anda juga akan memilikinya.

Olahraga rutin, konsumsi makanan bergizi dan kontrol berat badan adalah kunci menangani penyakit PCOS. Obat-obatan yang bisa menyeimbangkan hormon juga bisa dipakai untuk mengurangi gejala PCOS. Dokter biasanya akan meresepkan obat pengontrol kehamilan dan obat diabetes untuk penderita PCOS.

"Pil KB dan obat diabetes mengandung senyawa anti androgen yang bisa mengurangi kelebihan hormon pria pada penderita PCOS," ujar Dr Hendro.

Obat pengatur kehamilan (pil KB) akan mengurangi tumbuhnya rambut di bagian-bagian yang tidak diinginkan sedangkan obat diabetes (metformin) akan mencegah terjadinya diabetes dan memperlancar siklus menstruasi. Bagi yang ingin cepat hamil dan punya anak bisa minum obat penambah kesuburan.

Salah satu gejala yang merusak penampilan wanita penderita PCOS adalah tumbuhnya rambut-rambut halus di daerah-daerah tertentu. Tapi tak usah khawatir, untuk urusan itu bisa diatasi dengan waxing, mencukur, mencabut, laser atau menggunakan krim yang menghambat pertumbuhan rambut tersebut. (sumber :Nurul Ulfah - detikHealth, Ilustrasi Foto: mitchieville, edited)